Monday, November 3, 2008

Panjat Tebing


















Sekilas Tentang Panjat Dinding dan Panjat Tebing


Panjat tebing (rock climbing) adalah satu dari sekian banyak alternatif kegiatan yang menggunakan wahana tebing alam atau gugusan cadas dalam kegiatan alam bebas. Pada dasarnya kegiatan panjat tebing ini adalah suatu teknik memanjat tebing batu dengan memanfaatkan cacat batuan berupa tonjolan, rekahan, atau cekungan dengan atau tanpa alat bantu pendakian.


Namun pada perkembangan selanjutnya panjat tebing yang merupakan kegiatan murni di alam terbuka berangsur-angsur mulai dipopulerkan untuk umum sehingga memungkinkan untuk dilakukan di dalam ruangan. Perkembangan berikut inilah yang disebut dengan wall climbing (panjat dinding) yang kemudian banyak diperlombakan.


Berdasarkan kategorisasi kegiatan tersebut, panjat tebing kemudian berkembang menjadi dua jenis kegiatan yang berbeda yaitu rock climbing (panjat tebing batu), dan wall climbing (panjat tebing/dinding buatan). Yang membedakan kedua jenis kegiatan ini hanya media panjat yang digunakan.


Kalau rock climbing
media panjatnya adalah tebing cadas atau tebing bebatuan asli yang memang terdapat di alam bebas yang bukan hasil rekaan manusia. Sementara wall climbing jelas-jelas menggunakan media panjat hasil rekayasa manusia berupa papan panjat yang biasanya terdiri dari susunan papan plywood, fibreglass, atau bebatuan tiruan dari campuran semen dan gips atau bahan khusus tertentu.

Biarpun kategori kegiatannya berbeda, namun esensi dasar teknik dan alat-alat bantu yang digunakan dalam dua kegiatan ini adalah nyaris sama, bedanya hanya di skill dan teknik uniknya.

Rock Climbing


Berdasarkan teknik maupun peralatan yang digunakan, rock climbing sendiri oleh para penggiatnya kemudian dibedakan menjadi dua level yang berbeda: free climbing dan artificial climbing.

Level yang pali
ng orisinal adalah free climbing atau pemanjatan bebas yaitu pemanjatan tebing tanpa menggunakan alat bantu sama sekali kecuali tali pengaman yang tidak memengaruhi gerak pemanjatan. Di sini pemanjat (climber) bergantung penuh pada kekuatan jemarinya, kelincahan, dan keahlian individualnya dalam menyiasati kondisi tebing dan mengatasi rintangan medan pemanjatan.


Level yang satu lagi lebih 'manipulatif' yaitu yang dikenal dengan nama artificial climbing. Kalau dalam free climbing alat bantu yang digunakan hanya sebagai perangkat pengaman pemanjatan maka dalam artificial climbing, sang climber akanmenggunakan alat bantu sebisanya untuk mempermudah pemanjatan.












Ada sederetan perlengkapan yang paling umum dalam kegiatan panjat tebing berupa: tali (hawserlite/kernmantel), carabiner (cincin kait), harness (body harness atau full body harness), runner (cincin pengait tali), piton (paku tebing), hammer (palu tebing), chock (alat bantu pengait), helm, bolt, stirrup (semacam tangga praktis), sling, figure of eight, prusik rope...


Wall Climbing



Dari namanya saja sudah ketahuan kalau jenis kegiatan ini mediumnya adalah papan/tembok/dinding/tebing (wall) buatan untuk sarana pemanjatannya. Berbeda sekali dengan rock climbing yang memanfaatkan 'pemberian' alam asli sebagai sarana pemanjatannya, wall climbing menggunakan sarana panjat yang 'asli' buatan tangan manusia yang direkayasa sedemikian rupa.

Karena hasil rekayasa man
usia, maka dalam wall climbing sang climber 'terpaksa' harus memanfaatkan rute pemanjatan bentukan yang dirancang sesuai keinginan... wall climbing inilah yang kemudian menjadi populer di kalangan masyarakat dan menjadi salah satu olahraga yang sangat digandrungi hampir di seluruh penjuru bumi.


Macam-macam Climbing

Climbing terbagi 5 macam yaitu

1) Bouldering













Pemanjatan tanpa menggunakan alat khusus dengan ketinggian maksimal 5 meter. Pemanjatan ini dilakukan sebagai pemanasan untuk pemanjatan pada medan yang lebih tinggi.

2) Aid Climbing / Artifical Climbing (Direct Aid Climbing)













Pemanjatan tebing ini dilakukan dengan menggunakan alat yang selengkap-lengkapnya


3) Bigwall Climbing (Indireck Aid Climbing)

Pemanjatan dengan menggunakan alat atau tidak dengan maksimal ketinggian 5 meter.

4) Free Climbing

Pemanjatan dengan menggunakan alat pengaman seadanya.


5) Free Soloing

Pemanjatan ini biasanya dilakukan oleh master-master climbing, karena memerlukan pengetahuan tentang climbing lebih jauh dan pemanjatan ini dilakukan tanpa pengaman sama sekali pada tebing-tebing yang tinggi.



..vivaRCca..wakeUP..

Tuesday, February 19, 2008

Gua Cerme

Gua Cerme, Keindahan Stalagtit dan Stalagmit

Goa Cerme pada awalnya adalah tempat pertemuan yang digunakan oleh Walisongo untuk menyebarkan dan mengajarkan agama Islam di Jawa. Kata ‘Cerme’ berasal dari kata ‘ceramah’, pembicaraan yang diadakan selama pertemuan dalam membahas rencana mendirikan Masjid Besar di Demak, sebuah kota di utara Jawa Tengah.



Terletak di desa Selopamioro Kecamatan Imogiri 20 km arah selatan dari Yogyakarta. Panjang goa seluruhnya kurang lebih 1,5 km dan berakhir pada sebuah sendang di wilayah Panggang, tepatnya di desa Ploso, Giritirto, Kabupaten Gunungkidul. Rata rata kedalaman aliran air sekitar 1 hingga 1,5 meter.

Selain goa utama ada goa lain yang lebih kecil dimana dahulu digunakan untuk tempat meditasi seperti goa Dalang. Goa Ledhek, goa Badhut, dan goa Kaum. Pada hari Senin atau Selasa wage banyak pengunjng datang untuk meminta berkah Tuhan dengan mengadakan upacara syukuran. Pada masa liburan, banyak pelajar dan kaum muda berkunjung ke temapat ini. Sepanjang lorong di goa Cerme terdapat sebuah panggung yang dulu digunakan untuk tempat pertemuan.

Untuk mencapai gerbang depan goa, seseorang harus mendaki 759 meter tangga. Lebih baik jika pengunjung menghubungi Juru Kunci atau penjaga goa terlebih dahulu untuk mendapatkan keterangan atau informasi yang tepat.

Goa ini termasuk goa yang panjang dan dalam. Jalan untuk mencapai lokasi ini sangat baik dan jarak tempuh sekitar 20 km. Pemandangan menuju ke Goa Cerme dari desa terakhir sangat bagus. Pada siang hari, jika udara cerah, kota Yogyakarta terlihat indah dan pada malam hari bisa melihat kota dalam gemerlap lampu.
Daya tarik utama dari Goa cerme ini adalah keindahan stalagtit dan stalagmit serta adanya sungai bawah tanah dan kelelawar yang banyak bergelantungan di dalam gua. Kondisi di dalam goa tanpa lampu penerangan gelap gulita dan lantai goa digenangi oleh air tanah, yang pada musim penghujan airnya akan pasang (naik), tetapi pada musim kemarau airnya surut. Pada umumnya, wisatawan mancanegara yang berkunjung ke goa Cerme menghabiskan waktu antara 3 sampai 5 jam di lokasi.

Daftar gua terdalam di dunia

Daftar gua terdalam di dunia

Dari Wikipedia


Berikut adalah daftar gua terdalam di dunia yang pernah dieksplorasi manusia:

No. Nama Lokasi Kedalaman (feet) (meter)
1 Krubera (Voronja) Abkhazia 6.824 2.080
2 Lamprechtsofen Vogelschacht Weg Schacht Austria 5.354 1.632
3 Gouffre Mirolda / Lucien Bouclier Perancis 5.335 1.626
4 Reseau Jean Bernard Perancis 5.256 1.602
5 Torca del Cerro del Cuevon (T.33)-Torca de las Saxifragas Spanyol 5.213 1.589
6 Sarma Abkhazia 5.062 1.543
7 Cehi 2 Slovenia 5.030 1.533
8 Shakta Vjacheslav Pantjukhina Abkhazia 4.948 1.508
9 Sistema Cheve (Cuicateco) Meksiko 4.869 1.484
10 Sistema Huautla Meksiko 4.839 1.475
11 Sistema del Trave Spanyol 4.728 1.441
12 Evren Gunay Dudeni (Sinkhole) Turki 4.688 1.429
13 Boj-Bulok Uzbekistan 4.642 1.415
14 Sima de las Puertas de Illaminako Ateeneko Leizea (BU.56) Spanyol 4.619 1.408
15 Kuzgun Cave Turki 4.593 1.400
16 Sustav Lukina jama - Trojama (Manual II) Kroasia 4.567 1.392
17 Sniezhnaja-Mezhonnogo (Snezhaya) Abkhazia 4.495 1370
18 Sistema Aranonera (Sima S1-S2)(Tendenera connected) Spanyol 4.426 1.349
19 Gouffre de la Pierre Saint Martin Perancis 4.403 1.342
20 Siebenhengste-hohgant Hoehlensystem Swiss 4.396 1.340

Gunung Salak (salah satu gunung tempat latihan anggota Calandra)

Gunung Salak

Gunung Salak, dilihat dari arah Bogor



Gunung Salak merupakan sebuah gunung berapi yang terdapat di pulau Jawa, Indonesia. Gunung ini mempunyai beberapa puncak, di antaranya Puncak Salak I dan Salak II. Letak geografis puncak gunung ini ialah pada 6°43' LS dan 106°44' BT. Tinggi puncak Salak I 2.211 m dan Salak II 2.180 m dpl. Ada satu puncak lagi bernama Puncak Sumbul dengan ketinggian 1.926 m dpl.

Secara administratif, G. Salak termasuk dalam wilayah Kabupaten Sukabumi dan Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Pengelolaan kawasan hutannya semula berada di bawah Perum Perhutani KPH Bogor, namun sejak 2003 menjadi wilayah perluasan Taman Nasional Gunung Halimun, kini bernama Taman Nasional Gunung Halimun-Salak.

Vulkanologi dan geologi

Gunung Salak merupakan gunung api strato tipe A. Semenjak tahun 1600-an tercatat terjadi beberapa kali letusan, di antaranya rangkaian letusan antara 1668-1699, 1780, 1902-1903, dan 1935. Letusan terakhir terjadi pada tahun 1938, berupa erupsi freatik yang terjadi di Kawah Cikuluwung Putri.

Menurut Hartman (1938) G. Salak I merupakan bagian gunung yang paling tua. Disusul oleh G. Salak II dan kemudian muncul G. Sumbul. Sedangkan Kawah Ratu diperkirakan merupakan produk akhir dari G. Salak. Kawah Cikuluwung Putri dan Kawah Hirup masih merupakan bagian dari Kawah Ratu.

Jalur pendakian

Gunung Salak dapat didaki dari beberapa jalur pendakian. Puncak yang paling sering didaki adalah puncak II dan I. Jalur yang paling ramai adalah melalui Curug Nangka, di sebelah utara gunung. Melalui jalur ini, orang akan sampai pada puncak Salak II.

Puncak Salak I biasanya didaki dari arah timur, yakni Cimelati dekat Cicurug. Salak I bisa juga dicapai dari Salak II, dan dengan banyak kesulitan, dari Sukamantri, Ciapus.
Jalur lain adalah ‘jalan belakang’ lewat Cidahu, Sukabumi, atau dari Kawah Ratu dekat G. Bunder.

Selain itu Gunung Salak lebih populer sebagai ajang tempat pendidikan bagi klub-klub pecinta alam, terutama sekali daerah punggungan Salak II. Ini dikarenakan medan hutannya yang rapat dan juga jarang pendaki yang mengunjungi gunung ini. Juga memiliki jalur yang cukup sulit bagi para pendaki pemula dikarenakan jalur yang dilewati jarang kita temukan cadangan air kecuali di Pos I jalur pendakian Kawah Ratu, beruntung di puncak Gunung ( 2211Mdpl ) ditemukan kubangan mata air.Gunung Salak meskipun tergolong sebagai gunung yang rendah, akan tetapi memiliki keunikan tersendiri baik karakteristik hutannya maupun medannya.

Tutupan hutan

Hutan-hutan di Gunung Salak terdiri dari hutan pegunungan bawah (submontane forest) dan hutan pegunungan atas (montane forest).

Bagian bawah kawasan hutan, semula merupakan hutan produksi yang ditanami Perum Perhutani. Beberapa jenis pohon yang ditanam di sini adalah tusam (Pinus merkusii) dan rasamala (Altingia excelsa). Kemudian, sebagaimana umumnya hutan pegunungan bawah di Jawa, terdapat pula jenis-jenis pohon puspa (Schima wallichii), saninten

(Castanopsis sp.), pasang (Lithocarpus sp.) dan aneka jenis huru (suku Lauraceae).


Di hutan ini, pada beberapa lokasi, terutama di arah Cidahu, Sukabumi, ditemukan pula jenis tumbuhan langka raflesia (Rafflesia rochussenii) yang menyebar terbatas sampai Gunung Gede dan Gunung Pangrango di dekatnya.

Pada daerah-daerah perbatasan dengan hutan, atau di dekat-dekat sungai, orang menanam jenis-jenis kaliandra merah (Calliandra calothyrsus), dadap cangkring (Erythrina variegata), kayu afrika (Maesopsis eminii), jeunjing (Paraserianthes falcataria) dan berbagai macam bambu.

Margasatwa

Aneka margasatwa ditemukan di lingkungan G. Salak, mulai dari kodok dan katak, reptil, burung hingga mamalia.

Hasil penelitian D.M. Nasir (2003) dari Jurusan KSH Fakultas Kehutanan IPB, mendapatkan 11 jenis kodok dan katak di lingkungan S. Ciapus Leutik, Desa Tamansari, Kab. Bogor.

Jenis-jenis itu ialah Bufo asper, B. melanostictus, Leptobrachium hasseltii, Fejervarya limnocharis, Huia masonii, Lim

nonectes kuhlii, L. macrodon, L.microdiscus, Rana chalconota, R. erythraea dan R. hosii. Hasil ini belum mencakup jenis-jenis katak pohon, dan jenis-jenis katak pegunungan lainnya yang masih mungkin dijumpai. Di Cidahu juga tercatat adanya jenis bangkong bertanduk (Megophrys montana) dan katak terbang (Rhacophorus reinwardtii).

Berbagai jenis reptil, terutama kadal dan ular, terdapat di gunungini. Beberapa contohnya adalah bunglon Bronchocela jubata dan B. cristatella, kadal kebun Mabuya multifasciata
dan biawak sungai Varanus salvator.

Jenis-jenis ular di G. Salak belum banyak diketahui, namun beberapa di antaranya tercatat mulai dari ular tangkai (Calamaria sp.) yang kecil pemalu, ular siput (Pareas carinatus)

hingga ular sanca kembang (Python reticulatus) sepanjang beberapa
meter.

G. Salak telah dikenal lama sebelumnya sebagai daerah yang kaya

burung, sebagaimana dicatat oleh Vorderman (1885). Hoogerwerf (1948) mendapatkan tidak k

urang dari 232 jenis burung di gunung

ini (total Jawa: 494 jenis, 368 jenis penetap). Beberapa jenis yang cukup penting dari gunung ini ialah elang jawa (Spizaetus bartelsi) dan beberapa jenis elang lain, ayam-hutan merah (Gallus gallus), Cuculus micropterus, Phaenicophaeus javanicus dan P. curvirostris, Sasia abnormis, D

icrurus remifer, Cissa thalassina, Crypsirina temia, burung kuda Garrulax rufifrons, Hypothymis azurea, Aethopyga eximia dan A. mystacalis, serta Lophozosterops javanica.

Sebagaimana halnya reptil dan kodok, catatan mengenaimamalia G. Salak pun tidak terlalu banyak. Akan tetapi di gunung ini jelas ditemukan beberapa jenis penting seperti macan tutul (Panthera pardus), owa jawa (Hylobates moloch), lutung surili (Presbytis comata) dan tenggiling (Manis javanica).

Tuesday, January 15, 2008

Pendakian Massal Calandra Adventures 7 - 9 Desember 2007


Pendakian masal calandra adventures yg diadakan pada tgl 7 - 9 Desember 2007 di TNGP, adalah sebuah kegiatan yg ditujukan untuk memperkenalkan kepada calon-calon anggota CalandraAdventures sebagai expedisi kecil dimana kegiatan ini masih dalam rangka pemberian bekal materi untuk para calon anggota sebelum nantinya mereka mengikuti kegiatan Pendidikan Dasar Calandra Adventures (PDCA) yg nantinya pada setelah itu mereka di lantik menjadi bagian dari keluarga besar Calandra Adventures.

Namun dalam kegiatan Pendakian Massal ini juga terbuka untuk mahasiswa BSI maupun umum, yg tujuannya tidak lain adalah sebagai media memasyarakatkan kegiatan alam bebas di lingkungan akedemi maupun lingkungan sekitar kampus BSI dan masyarakat luas







Seperti kegiatan PM terdahulu lokasi kegiatan masih berkutat di gunung Gede Pangrango dengan rute di mulai dari jalur gunung putri, puncak gede, trus turun ke jalur cibodas.

Adapun acaranya antara lain adalah pelantikan para calon anggota di alun - alun surya kencana, di lanjutkan oleh game - game seru.





Nb. trimakasih yg sebasar2nya utk panitia & semua pihak yg udeh membantu terlaksananya PM 12 2007