Thursday, September 27, 2007

Pecinta Alam! ... Apaan Tuh ...!

Mengapa Kami tidak menyatakan diri sebagai organisasi pecinta alam?
 
    Benarkah kalian itu Pecinta Alam? Benarkah manusia-manusia dengan ransel di punggungnya itu pecinta alam? Benarkah mereka yang bermain di alam bebas harus menyatakan diri sebagai pecinta alam?
    Kalau memang benar kalian pecinta alam, kontribusi apa yang telah kalian berikan sebagai wujud kecintaan kalian terhadap alam? Menanam pohon! .... ah, kakekku pun banyak menanam pohon, namun tidak menyatakan diri sebagai pecinta alam. Tetangga di sebelah rumahkupun banyak menanam pohon namun tidak menyatakan diri sebagai pecinta alam.
    Operasi bersih! Ah, kalau begitu Pak Surip lebih layak menyandang gelar pecinta alam, karena dalam satu minggu sekali Pak Surip mengangkut sampah dari rumah ke rumah di lingkungan kami. Sedangkan Operasi bersih yang kalian lakukan hanya satu kali dalam satu tahun.
    Sapu gunung! Ah, di jalan-jalan ibu kotapun banyak yang seperti itu, dan mereka tidak menyebut dan disebut pecinta alam. Mereka dijuluki sebagai pasukan kuning.
    Loh kok pasukan kuning? Ya ... iyalah, karena warna seragam yang mereka gunakan berwarna kuning(padahal orange). Seandainya pakaian mereka diubah warnanya, tentunya sebutannyapun akan berubah. Tapi warna kuning memiliki makna tersendiri, kuning perlambang optimisme dan kekayaan. Sehingga para anggota pasukan kuning memiliki sikap optimis dan kekayaan hati untuk membuat ibukota selalu bersih, bener nggak ya...???
    Dalam berkegiatan di alam bebas, masalah cinta-mencintai alam merupakan masalah non teknis, masalah filosofis (apa coba...), masalah mentalitas, masalah etika, masalah moral, dan masalah tanggung jawab. Wah, berat nih!
    Tak ada masalah dalam berkegiatan alam bebas meskipun kita mencintai ataupun tidak. Namun, jika tidak bisa memperkirakan cuaca, mendirikan tenda, atau hanya sekedar mencampur kopi dengan gula, itu baru namanya bermasalah.
    Sehingga, soal cinta mencintai ini tidak dapat dimasukan ke dalam wilayah teknis. Maka dari itu dalam Pendidikan Dasar yang digelar untuk merekrut anggota baru tak ada materi teknik mengumpulkan sampah M sistem atau evakuasi sampah, atau, jangan-jangan ada!
    Mencintai alam merupakan kewajiban setiap manusia. Dan inipun tersirat di dalam kitab suci, sehingga mencintai alam menjadi kewajiban bagi seluruh umat manusia tanpa kecuali, menyukai ataupun tidak menyukai kegiatan di alam bebas.
    Mencintai alam merupakan pekerjaan keabadian, persoalan bagaimana menjaga keseimbangan di dalamnya. Persoalan bagaimana manusia menjaga sumber kehidupannya.
    Loh, kok sumber kehidupannya  sih? Saya kan penulis buku, lalu apa hubungannya dengan saya ... wong sumber kehidupan saya dari menulis buku, bukan dari alam? Lalu kertasnya dari mana Mas, kalau bukan dari pohon-pohon di alam!
    Apapun pekerjaannya, selama statusnya masih mahluk bernyawa, ketergantungan pada alam sebagai penyedia sumber daya sangatlah besar. So, siapa lagi yang menjaganya kalau bukan mahluk-mahluk yang mengisinya.
    Mencintai alam adalah tugas semua manusia, kewajiban bawaan yang telah ada sejak ubun-ubun keluar dari perut ibu kita.
    So, you tak perlu risau dan tak perlu ragu apalagi malu ... Katakan pada mereka, Calandra Adventures bukan pecinta alam, namun Calandra Adventures mencintai alam.
 
Coba bedakan ;
"Saya pembaca buku", dengan "Saya membaca buku".
"Aku pecinta kamu", dengan "Aku mencintai kamu"
"Kami pecinta alam", dengan "Kami mencintai alam".
Secara naluri, mana yang lebih bermakna?  
 
 

Mendaki sebagai terapi



    Empat bulan setelah pendakian masal, berat tubuhku menyusut, mukaku semakin kusut. Entah apa dan bagaimana itu bisa terjadi, entahlah. Namun, sejak saat itu aktifitas lari pagi yang kulakukan setiap minggunya praktis terhenti.
    Bukan apa-apa, kasut yang kubeli 3 tahun yang lalu, menyerah kalah ketika pendakian masal bulan Mei yang lalu. Hingga kini aku masih tak mampu membeli yang baru, entahlah.
    Mungkin penurunan berat badan yang kualami diakibatkan terhentinya aktifitas lari sebagai olah raga. Ah, masa sih, bukankah olah raga justru menurunkan berat badan?
    Bagi sebagian orang mungkin terjadi, namun bagi sebagian yang lain malah sebaliknya.
    Berlari, bagiku hanya sebagai pengganti mendaki. Padahal, mendaki takan bisa diganti dengan aktifitas lain. Ya ... mau bagaimana lagi ....
    Mendaki gunung memerlukan kondisi fisik yang cukup prima. Tapi fisik saja tidak cukup, kondisi mentalpun memiliki peran yang sangat penting. Kondisi mental meliputi pikiran yang letaknya di kepala yang tugasnya mengkalkulasi, menghitung, dan mempertimbangkan segala keputusan berdasarkan informasi yang ditangkap panca indera.
    Kondisi mental juga meliputi jiwa, yang letaknya di dalam dada, memiliki sifat perasa dan mampu menangkap sesuatu di luar jangkauan logika. Jiwa itu memiliki tugas sebagai bara yang mampu menghangatkan raga. Dalam pengambilan keputusannya, selalu berdasarkan intuisi, naluri, dan kepercayaan, tanpa perlu pembuktian maupun perhitungan matematis. 
    Kedua perangkat mental tersebut dalam pelaksanaanya saling mempengaruhi, saling  melengkapi, dan saling mengimbangi.Pada akhirnya setiap keputusan yang keluar, berdasarkan kecenderunganya pada salah satunya, atau bisa juga kedua-duanya.
    Nah, hasil keputusan inilah yang pada akhirnya akan dilaksanakan oleh raganya. Sehingga terkadang ada orang yang melakukan gerakan tanpa disadarinya, produk dari jiwanya, dan kita sering menyebut dengan gerakan reflek. Namun, jika ada orang yang melompati sebuah lubang dan sebelumnya orang tersebut melakukan perkiraan-perkiraan, berarti orang tersebut mengambil keputusan berdasarkan kepalanya.
    Dalam mendaki gunung, kita memerlukan semua perangkat tersebut, raga, pikiran, dan jiwanya. Jika ada masalah dengan salah satunya, secara otomatis pendakian yang dilakukan akan terasa menyakitkan, menakutkan, dan membahayakan. Dan pendakian seperti itulah yang berpotensi menggiring ke arah kehilangan nyawa, meskipun kita harus meyakini kematian merupakan urusan Yang Maha Kuasa.
    Seorang pendaki harus dapat memaksimalkan perangkat-perangkat tersebut. Mereka berolah-raga untuk menjaga kesiapan fisiknya, kalaupun tidak, mereka melakukan pendakian secara rutin dan berkala, karena bagi orang macam itu, mendaki adalah olah-raganya.
    Untuk mengisi kepalanya, para pendaki selalu mencari pengetahuan, teknik-teknik atau cara-cara baru yang dapat membantunya dalam berkegiatannya. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menambah kapasitas pikirannya, ikut klub-klub atau komunitas penggiat alam, diskusi, ataupun dari media-media yang ada.
     Nah, yang ke tiga inilah yang paling sulit, karena dibutuhkan kesadaran diri tentang siapa dirinya, tentang bagaimana seharusnya bersikap, berkarakter, berperilaku sesuai dengan pilihannya sebagai pendaki.
     Yang ketiga inilah yang perlu dicari, digali oleh masing-masing diri, Melalui pengalamannya sendiri, dan dari kehidupannya sendiri. Jiwa inilah yang seharusnya dapat lebih dihayati dan dimaknai, kemudian diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
     Pada akhirnya ketika jiwa telah terasuki mental, karakter seorang pendaki, maka takperlu lagi kita mendaki gunung-gunung tertinggi, karena ketinggian letaknya pada saat kita mampu menjadi diri, berbagi dan mengisi kehidupan menjadi manusia yang lebih baik.
 
Untuk para pendaki yang tak memiliki kesempatan untuk mendaki dan mempelajari cara-cara baru, namun di dalam jiwanya terdapat bara yang mampu menerangi hingga tempat tertinggi, kalian tetap pendaki, kalian tetap saudaraku. Brotherhood forever ...

Wednesday, September 26, 2007

Kesederhanaan di alam bebas


Seorang sahabat telah memberi pandangan dan pemahaman baru tentang mendaki gunung. Sahabatku itu bukan seorang yang menyatakan diri sebagai pecinta alam, terlebih bergabung dengan sebuah organisasi. Dia adalah sahabatku semasa kami masih duduk di bangku sekolah.

Bagi sahabatku, mendaki gunung adalah sebuah kesederhanaan, ya aktifitas sederhana dan dilakukan dengan sederhana. Dan tentunya pernyataan itu sedikit mengganggu pikiran kita yang terbiasa melakukan perjalanan secara terencana.

Seperti kita tahu, perencanaan merupakan separuh dari perjalanan. Bagi kita, perencanaan adalah gambaran tentang apa yang akan kita lakukan, tahapan-tahapan berserta segala tindakan antisipasi atas segala kemungkinan yang akan dihadapi dan ditemui. Dan semuanya dilakukan untuk meminimalkan resiko yang akan dialami.

Hidup di alam bebas memiliki romantika tersendiri. Ketika kita berada di dalamnya, ada perasaan tertentu yang tidak kita temukan di pojok-pojok penjuru kota manapun. Perasaan bebas dan lepas, perasaan memiliki segalanya. Perasaan menjadi dan memiliki diri sendiri.

Lukisan Calandra

Kita seperti pelukis-pelukis yang mencoretkan kuasnya di atas satu  kanvas. Satu kanvas itu kita kenal dengan Calandra. Tiap-tiap pelukis, memiliki karakter dan ciri khas masing-masing. Semua pelukis ingin mengoreskan kuasnya masing-masing, memberi warnanya masing-masing, garisnya masing-masing. Pada akhirnya, para pelukis kebingungan, sebenarnya lukisan apa yang telah mereka buat. Mereka hanya melihat satu kanvas penuh coretan dengan penuh warna tanpa tahu apa yang telah mereka lukis.

Merekapun akhirnya berembuk dan memutuskan melukis dengan satu tujuan, yaitu melukis sesuai dengan apa yang telah disepakati. Akhirnya, lukisan pertama yang dipenuhi coretan tak jelas, kembali ditutupi warna-warna, coretan-coretan baru dengan objek yang jelas dan pada akhirnya menghasilkan lukisan indah yang dapat dimengerti, dipahami dan dinikmati bersama. Bukan hanya mereka, namun juga orang-orang yang melihatnya.

Tak lama, pelukis-pelukis baru datang dan melihat lukisan para pelukis lama tersebut, setelah dipersilahkan, pelukis-pelukis baru itu mencoretkan kuas dan warnanya, namun tidak sampai merubah semuanya, tapi hanya memperbaiki, manambahi, memperhalus lukisan yang telah ada. Karena para pelukis muda telah mengetahui tujuan dari lukisan pelukis lama.

Begitupun seterusnya, generasi tiap generasi datang dan pergi menambah, memperbaiki, memperhalus lukisan tersebut tanpa merubah garis lukisan awal, karena memang cukup jelas Visi yang menjadi dasar lukisan awal.

Monday, September 24, 2007

Jalan Kita Masih Panjang

Ah, kalian masih muda, masih panjang jalan yang harus kalian tempuh. Seberapa jauh dan berliku jalan yang akan kalian tempuh tak ada yang tahu. Sudah, takperlu kalian cari tahu, berjalanlah seperti biasanya. Seperti angin yang berhembus, melayang bebas, seperti itulah seharusnya kalian menempuh jalan yang tak kalian ketahui kapan berakhirnya. Kalian bebas berjalan membawa jiwa kalian sendiri.

Kalian hidup di dunia yang berbeda. Tempat kalian begitu sunyi, dingin, lembab, gelap, dan tinggi. Namun dunia yang berbeda itu begitu kalian cintai. Kalian adalah manusia unik yang hidup berkelompok, berkerjasama, dan saling berbagi. Mungkin, karena itulah kalian mampu hidup di dunia yang berbeda itu.

Diantara kalian, sama seperti manusia-manusia kebanyakan. Kalian tak luput dimakan waktu, satu persatu wajah kalian bergaris-garis, satu persatu dari kalian tak mampu lagi bermain di dunia yang berbeda itu. Satu persatu kalian tua, dan engkaupun kelak seperti itu. Namun tidak dengan jiwanya, yang terus terbang penuh kebebasan, dan engkaupun begitu.

Saturday, September 22, 2007

Kita akan menjadi besar ...

Siapa yang tak ingin menjadi besar? mungkin orang yang takut merasa gemuk saja yang takut badannya menjadi besar.
Dikalangan penggiat alam siapa yang tak mengenal organisasi yang bernama Wanadri, atau Mapala UI dengan Soe Hoek Gienya. Kedua organisasi itulah yang menjadi pionir tumbuhnya organisasi-organisasi pecinta alam maupun penggiat alam.
Tapi siapa yang bisa meramalkan masa depan? Paling-paling manusia hanya bisa menerka-nerka dengan logika seadanya. Orang bijak bilang "manusia hanya bisa merencanakan, Tuhanlah yang menentukan".
Begitu pula dengan kami, Calandra Adventures, sebuah keluarga besar, kelak akan semakin besar, melebar, dan menjulang tinggi. Karena KAMI tumbuh dan berkembang, bersama ...
20 tahun ke depan, siapa yang takan mengenal Calandra ???

Apa yang kalian cari?

Mentari begitu terik, membakar kulit hingga ari-ari. Peluh bercampur debu, ditambah bau gosong bakaran kulit, begitu menusuk penciuman. Belum juga hilang dahaga, lelah kedua betis begitu terasa, memaksa untuk terus terjaga.
Langkah demi langkah, meski goyah kami takan menyerah. Hidup itu perjuangan, karena itu kami terus berjuang. Bersama-sama menebas dan menerabas segala semak keraguan, lintasi belantara kehidupan.
Kami lahir, tumbuh, dan berkembang.

Saturday, September 15, 2007

Dies natalis ke 14

Setiap apapun yang tumbuh pasti ia dilahirkan terlebih dahulu,baik manusia,hewan,tumbuhan dan yang bernyawa maupun tidak bernyawa pasti ia akan dilahirkan terlebih dahulu,baik itu dilahirkan oleh seorang ibu,dibuat oleh profesor, maupun dibentuk dari orang orang cendikiawan, brutal,ataupun intelek.......begitupun Calandra Adventures ia lahirkan dari orang orang cerdas,peduli,suka bersenda gurau,cuek , urakan yang mempunyai satu hoby satu visi dan misi.sehingga dengan penyatuan misi,hoby,visi terbentuklah organisasi alam bebas Calandra Adventures yang lahir pada tanggal 28 Agustus 1993. organisasi yang dapat menampung hoby dalam berpetualang dialam bebas,organisasi yang dapat belajar berorganisasi dan organisasi yang dapat membentuk karakter setiap individu.
setiap apapun yang dibuat ataupun dilahirkan ia pasti ingin tumbuh, berkembang,maju....tapi bagaimana caranya supaya ia tumbuh,berkembang dan maju ???banyak hal atau cara dilakukan tergantung dari individu.apakah ia akan mengembangkannya dan membiarkan ia tumbuh dengan sendirinya ataupun mengembangkannya dengan merawatnya.calandra yang sudah lahir 14 tahun yang lalu lahir mudah mudahan dapat tumbuh menjadi berkembang dan maju tergantung kita merawatnya,apakah kita ingin calandra menjadi dewasa dan terus menjadi berkembang dan besar dan apakah kita akan membiarkan calandra tumbuh dengan sendirinya tanpa kemajuan??? hanya kita yang bisa menjawab semua ini yaitu keluarga besar Calandra Adventures, dengan dies natalies yang ke 14 Calandra Adventures mudah mudahan kita dapat membuat mimpi kita menjadi lebih sempurna dan cita cita yang dapat terwujud yaitu mimpi yang ada diangan angan kita bersama, angan angan yang dapat membuat kita tersenyum bersama sama....
god give us two hands
two eyes,two ears
but why God give us just one heart
one brain??
Because God give another choice to you to find your destiny in your live
Ketika matahari terbenam
Ketika Langit Menjadi Gelap
Ketika Bulan Mulai menampakkan Senyumnya
Ketika Kabutpun turun
Kita takkan pernah tau apa yang akan terjadi esok hari
hanya keberanian yang bisa kita andalkan
bagaimanapun kerasnya halangan melintas didepan kita
dengan keberanian pasti kita bisa melaluinya.....
kudedikasikan buat orang orang yang telah melahirkan dan peduli serta memajukan calandra Adventures
jakarta 15 September 2007 "00.45 WIB" 079 MF

Pendidikan Lanjutan

Artifisial di tebing citatah Padalarang Bandung

DikJut Caving


sedang mengadakan pengamatan di gua dalam kawasan tajur Bogor



Plotting (DikJut GH)



ngaprak di gunung salak (dikjut GH)


Pemanjatan Artifisial (pendidikan lanjutan)




Pendidikan Lanjutan di Calandra di lakukan untuk memperdalam pengetahuan di bidang olah raga alam bebas juga mempertajam skill individu agar SDM yang ada di calandra lebih berkualitas khususnya dalam berkegiatan alam bebas. Tiap tahun diadakan evaluasi agar materi materi yang diajarkan dalam pendidikan-pendidikan baik itu pendidikan dasar maupun pendidikan lanjutan lebih baik lagi.

(oleh Bakti, pedot, meonx)