Caving

Keraton Cave Expedition Menyambut HUT BSI ke 23

Calandra Adventures - Keraton Cave Expedition Menyambut HUT BSI ke 23 from syalee on Vimeo.

CITEUREUP-Sejak bumi dihuni oleh manusia, gua memiliki peranan yang  penting. Manusia purba menjadikannya sebagai tempat tinggal. Mereka  memanfaatkan gua untuk tempat berlindung dari cuaca ataupun binatang  buas. Banyak sejarah kehidupan manusia tempo dulu dikaji dari sini,  relief pada dinding gua sering dijadikan sebagai bahan kajian.
Kesan mistis dan seram sepertinya telah sirna, ornamen yang terdapat  dalam gua telah merubah paradigma tersebut. Kilau cahaya pada dinding  gua seolah - olah mampu menyedot perhatian anda untuk datang  menikmatinya.
Sayangnya tidak semua ornamen dapat dinikmati dengan mudah, ada  ornamen yang dapat dinikmati sampai kedalaman 2 km dari permukaan tanah.  Kesulitan itu seolah menjadi tantangan bagi yang akan menikmatinya,  butuh peralatan dan keahlian khusus untuk mencapai kedalaman tersebut.
“Tingkat kesulitan yang ada dipengaruhi oleh bentuk dan karakteristik  guanya, gua dengan karakteristik vertical sangat sulit dilalui,  sedangkan gua yang memiliki karakteristik horizontal tak butuh peralatan  khusus, biasanya dijadikan sebagai objek wisata alam.
Meskipun tingkat kesulitannya tinggi, tidak menyurutkan semangat para  penggemar telusur gua. Buktinya, para penggemarnya terus meningkat  peminatnya kebanyakan generasi muda yang senang tantangan.
Bagi para caver Jakarta, kawasan karst Tajur, Citeurep, sudah tak  asing lagi. Lokasi ini sering dijadikan sebagai ajang latihan untuk  persipan ekspedisi ataupun untuk meningkatkan kemampuan individu, hampir  tiap hari libur lokasi ini selalu dipenuhi caver Jakarta.
Gua Keraton merupakan gua yang menjadi tujuan utama caver, disebut  keraton karena ornamen yang ada menyerupai kemewahan hiasan keraton.  Masyarakat setempat menyebutnya gua Putri. Gua yang berada di daerah  Tajur, Bogor ini bentuknya vertical dan horizontal, kedalaman  verticalnya sekitar 75- 100 m, sedangkan panjang horizontalnya belum ada yang  mengetahuinya.
Tingkat kesulitan gua ini tak terlalu tinggi, sangat baik dijadikan  sebagai media latihan SRT (single rope tranverse). Ketika memasuki mulut  gua, hiasan ornamen gua yang berkilau terkena pantulan cahaya lampu  begitu mempesona. Persis di depan mulut gua terdapat stalaktit besar  setinggi satu meter, oleh masyarakat batu ini diyakini sebagai penjaga  istana gua Keraton.
Dari mulut gua jalur yang dilalui horizontal. Sepanjang lorong ini  terdapat jalur air yang tidak terlalu deras. Jalur yang panjangnya  sekitar 10 m ini akan berakhir di sebuah mulut gua vertical. Pada ujung  jalur ini terdapat daerah datar yang tidak terlalu luas. Di tempat  inilah biasanya para caver istirahat sebelum melakukan penelusuran.
Pada lokasi ini terdapat lubang besar yang tingginya 10 m, dari  lubang sinar Matahari dapat menembus dinding-dinding gua yang lembab.  Dinding gua pada tempat ini tertutup lumut hijau, bila terkena sinar  Matahari akan memantulkan cahaya hijau kebiruan, bagaikan air laut  ditengah kegelapan.
Lubang tersebut merupakan jalur vertical gua Keraton bagian luar.  Masih ada lagi lubang vertical bagian dalam, jalur vertical ini lebih  sulit dan butuh peralatan khusus. “ Disini cahaya matahari tak dapat  menembus dinding gua, penggunaan alat penerangan hal mutlak yang harus  dibawa.
Tak jauh dari mulut gua yang vertical terdapat celah batu yang dapat  digunakan untuk memasang anchor (pengaman utama sebagai penambat tali).  Setelah anchor dipasang dan peralatan lainnya siap, penelusuran Gua  Keraton pun dimulai. Gelapnya lorong gua serta licinnya batuan  membutuhkan nyali yang besar untuk menaklukannya, setelah beberapa lama  menggantung pada tali, terdapat sebuah pitch (titik berhenti), di lokasi  inilah biasanya caver beristirahat.
Dari pitch ini untuk sampai ke dasar gua tak terlalu jauh, tinggal  turun sedikit dasar gua pun dapat dipijak. Dasar Gua Keraton sangat luas  menyerupai alun-alun, di dasar gua ini terdapat jalur horizontal yang  ujungnya belum diketahui. Di sini suara hiruk pikuk kehidupan tak  terdengar. Suara desiran air terdengar lembut, membuat hati terasa  tenang. Kesejukan dan kesunyiannya sejenak hanyutkan kita kedalam  kehidupan yang penuh kedamaian



Keindahan Dunia Bawah Tanah



BAGI sebagian masyarakat, dunia bawah tanah (gua) mungkin belum menjadi objek menarik untuk dicermati. Hal ini wajar karena berbagai pengetahuan tentang gua belum begitu dikenal secara meluas. Selama ini, hanya ilmuwan dan petualang yang memperlihatkan ketertarikan terhadap gua. Bagi mereka, gua adalah mahakarya alam yang selalu menarik untuk diungkap. Gua seolah menjadi jawaban atas kehausan seseorang terhadap ilmu dan tantangan petualangan.
Hal berbeda diperlihatkan penduduk yang tinggal di sekitar gua. Mereka memandang gua dari sudut spiritualitas yang cenderung berbau mistis dan klenik. Tak heran, banyak gua dianggap keramat, memiliki mitos, dan legenda yang terus diwariskan kepada generasi selanjutnya.
Pembentukan gua

Untuk memahami pembentukan gua, terlebih dahulu kita harus mengenal bentang alam atau dikenal dengan istilah karst. Karst merupakan bentang alam khas yang dibentuk oleh proses pelarutan batuan karbonat, baik batuan gamping maupun batuan dolomit. Kedua jenis batuan tersebut merupakan batuan sedimen yang terbentuk dari pengendapan organisme laut. Melalui proses pengangkatan benua, dasar laut tersebut terangkat dan berubah menjadi daratan, meninggalkan jejak-jejak yang masih bisa dikenal.
Batuan karbonat sangat mudah terlarutkan oleh air. Oleh karena itu, jika bersentuhan dengan air dalam waktu yang lama, bagian lemah batuan tersebut akan hilang (terlarutkan). Sementara itu, bagian batuan lebih kuat akan tetap ada, tersisa dalam berbagai bentukan khas kawasan karst. Proses pelarutan yang membentuk bentang alam karst dinamakan proses karstifikasi. Pada akhirnya, bentang alam kawasan karst dapat dibedakan menjadi bentukan permukaan (morfologi eksokarst) dan bentukan bawah permukaan (morfologi endokarst).

Dalam dunia keilmuan, bentang alam karst dipelajari oleh disiplin ilmu karstologi. Namun dalam kenyataannya, kajian karstologi lebih dititikberatkan pada fenomena eksokart. Fenomena endokarst dikaji secara khusus oleh disiplin ilmu speleologi. Secara umum, speleologi dapat diartikan sebagai ilmu yang mempelajari gua dan lingkungannya. Kedua ilmu tersebut masih tampak asing bagi dunia pendidikan di Indonesia. Berbeda jauh dengan di negara maju, keduanya sudah mulai diperkenalkan sejak tingkat pendidikan dasar.

Pembentukan gua berlangsung dalam waktu yang sangat panjang, mencapai ribuan hingga jutaan tahun. Seperti bentukan-bentukan kawasan karst yang lain, lorong gua dengan keragaman bentuknya merupakan hasil dari proses pelarutan. Aliran air yang melarutkan batuan tersebut, pada umumnya mengalir mengikuti lorong-lorong yang telah dibentuknya. Aliran seperti itu dikenal sebagai sungai bawah tanah. Keberadaan sungai bawah tanah dapat menjadi ciri bahwa proses pembentukan gua masih terus berlangsung. Gua yang memiliki sungai bawah tanah disebut gua aktif. Sementara itu, gua yang sudah tidak memiliki aliran bawah tanah dinamakan gua fosil. Artinya, proses pembentukan gua tidak berlangsung lagi.

Menurut dr. R.K.T. Ko, ahli karstospeleologi, bentuk fisik gua dipengaruhi secara terus-menerus oleh tiga faktor. Pertama, pengikisan (erosi) kimiawi-mekanis yang berlangsung secara terpisah atau kombinasi. Kedua, pengendapan, baik berupa sedimen di lantai gua, maupun dalam bentuk berbagai macam dekorasi gua (speleothem, cave deposite, cave decorations). Ketiga, proses peruntuhan, baik dalam bentuk bongkahan (block breakdown), lempengan tebal (slab breakdown), lempengan tipis (plate breakdown), maupun butiran kecil (chip breakdown).



Stalaktif & Stalagmit
Setelah lorong gua terbentuk, proses selanjutnya adalah pembentukan ornamen-ornamen (dekorasi gua). Prosesnya pun berlangsung dalam waktu yang sangat lama. Dekorasi gua sangatlah beragam jenisnya. Satu dengan yang lain memiliki keunikan dan daya tarik sendiri-sendiri. Bentukan yang paling dikenal adalah stalaktit dan stalagmit.

Stalaktit merupakan bentukan yang berada di atap gua, arahnya meruncing, menghadap ke dasar gua. Bentukan ini dihasilkan oleh akumulasi mineral-mineral (umumnya mineral kalsit) yang menetas melalui atap gua. Ketika air menggantung dan hendak jatuh, sebagian mineralnya menempel pada atap gua. Dalam waktu yang lama, akumulasi mineral-mineral tersebut akan menciptakan bentuk-bentuk tertentu. Sementara itu, air yang jatuh ke dasar gua pun masih mengandung mineral-mineral yang kemudian terakumulasi dan membentuk suatu bentukan yang arahnya berlawanan dengan stalaktit. Inilah yang dinamakan stalagmit.

Ukuran stalaktit berbeda-beda tergantung umur pembentukannya, ada yang sebesar sedotan, sebesar tangan manusia atau bahkan seukuran pohon kelapa. Ada yang berwarna kusam ataupun bening mengkristal. Stalagmit yang baru tumbuh bentuknya banyak yang menyerupai kuncup-kuncup jamur, semakin lama semakin besar dan tinggi. Jika proses yang terjadi dalam sebuah gua tetap berlangsung, stalaktit dan stalagmit dapat bersatu, membentuk pilar/tiangan. Tiangan dapat berfungsi sebagai penopang yang menguatkan sebuah gua. Selain bentukan-bentukan tadi, terdapat juga heliktit, gourdam, flowstone, canopy, dan lain-lain.

Flora dan Fauna Gua

Selain bentukan yang sangat khas dan beragam, biota gua (biospeleologi) merupakan daya tarik lain sebuah gua. Flora gua relatif lebih langka dibandingkan dengan faunanya. Biasanya hanya berupa lumut atau paku-pakuan. Fauna gua dapat dibedakan menjadi tiga golongan yang berbeda.
Pertama, trogloxene, binatang yang habitat aslinya berada di luar gua, namun sering memasuki gua untuk kepentingan tertentu, misalnya dalam mencari makanan. Kedua, troglophile, binatang penghuni gua yang masih berkepentingan dengan dunia luar. Ketiga, troglobiont, binatang yang merupakan penghuni abadi sebuah gua. Binatang jenis ini selamanya hidup di kegelapan gua dan tidak lagi memerlukan cahaya dalam kelangsungan hidupnya. Dengan demikian, mata binatang troglobiont tidak lagi berfungsi.Flora dan fauna gua merupakan komponen penyusun ekosistem gua. Bentuknya berupa rantai makanan dan jaring-jaring makanan yang khas, serta memiliki berbagai kompleksitas. Oleh karena itu, gangguan terhadap flora dan fauna gua, seperti mengeksploitasi ikan dan kelelawar, bisa mengakibatkan terganggunya keseimbangan ekosistem gua.


Pengembaraan Perdana Caving

Pengembaraan Caving Calandra di laksanakan di kawasan karts Bayah Banten, Pengembaraan caving ini dilakukan oleh 5 orang dan didampingi oleh 1 orang pendamping. Dalam pengembaraan ini memasuki 3 gua horizontal dan 1 gua vertical. gambar ini adalah salah satu gua horizontal yang mempunyai ornamen yang lengkap, terlihat Bems dan Kings sedang melewati lintasan untuk memasuki gua cilauk.